INITOGEL – Di era serba digital seperti sekarang, hampir semua aspek kehidupan generasi muda terhubung dengan teknologi. Mulai dari belajar, bekerja, hingga bersosialisasi, semua dapat dilakukan lewat layar gawai. Meski membawa kemudahan dan efisiensi, gaya hidup digital ternyata menyimpan risiko besar terhadap kesehatan mental generasi muda.
Ketergantungan Digital: Antara Produktivitas dan Tekanan Mental
Generasi muda kini hidup dalam dunia yang tak pernah benar-benar offline. Berdasarkan survei Digital Wellbeing Indonesia 2025, rata-rata anak muda menghabiskan lebih dari 8 jam per hari di depan layar. Aktivitas seperti bermain media sosial, menonton konten video, dan mengikuti tren daring memang menghibur, namun juga memicu ketergantungan digital.
Menurut psikolog klinis Dr. Maya Lestari, penggunaan media digital yang berlebihan dapat menimbulkan gejala kecemasan sosial, depresi ringan, gangguan tidur, hingga menurunnya kemampuan fokus. “Fenomena doom scrolling dan tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial dapat memperburuk kesejahteraan mental remaja,” ujarnya.
Tekanan Sosial dari Dunia Maya
Salah satu dampak paling nyata dari gaya hidup digital adalah tekanan sosial yang datang dari media sosial. Banyak remaja merasa harus selalu terlihat bahagia, sukses, dan produktif. Hal ini memunculkan kecemasan sosial dan perasaan tidak cukup baik (insecure).
Penelitian dari Indonesian Youth Health Forum (IYHF) tahun 2025 menunjukkan bahwa 64% remaja merasa cemas ketika melihat pencapaian teman-teman mereka di dunia maya. Akibatnya, muncul gangguan seperti overthinking, burnout, hingga isolasi sosial karena terlalu membandingkan diri dengan orang lain.
Dampak Fisik dari Kelelahan Digital
Selain gangguan psikologis, gaya hidup digital juga berdampak pada kesehatan fisik. Terlalu lama menatap layar dapat menyebabkan mata lelah, gangguan postur tubuh, dan kualitas tidur yang buruk. Pola tidur yang tidak teratur dan paparan cahaya biru di malam hari mengganggu produksi melatonin, hormon yang berperan penting dalam siklus tidur.
Dr. Andi Prasetyo, pakar kesehatan digital, menjelaskan bahwa digital fatigue kini menjadi fenomena umum di kalangan pelajar dan pekerja muda. “Tubuh dan otak manusia tidak dirancang untuk terus-menerus menerima stimulasi visual tanpa jeda. Ini memicu stres kronis yang sering tidak disadari,” jelasnya.
Solusi dan Tips Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
Meski tantangan gaya hidup digital cukup besar, bukan berarti generasi muda tidak bisa mengelolanya. Berikut beberapa langkah sederhana untuk menjaga keseimbangan mental di dunia serba digital:
-
Terapkan Digital Detox
Luangkan waktu tanpa gawai minimal 1–2 jam setiap hari untuk menenangkan pikiran. -
Gunakan Media Sosial Secara Bijak
Batasi konsumsi konten negatif dan prioritaskan interaksi yang bermanfaat. -
Tidur yang Cukup dan Teratur
Hindari layar setidaknya 30 menit sebelum tidur untuk meningkatkan kualitas istirahat. -
Lakukan Aktivitas Fisik
Olahraga ringan atau berjalan kaki 20–30 menit per hari dapat membantu menurunkan stres. -
Cari Dukungan Sosial Nyata
Bertemu teman atau keluarga secara langsung dapat mengurangi perasaan terisolasi.
Gaya hidup digital memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, keseimbangan tetap menjadi kunci. Dengan kesadaran dan pengelolaan yang baik, generasi muda dapat menikmati manfaat dunia digital tanpa harus mengorbankan kesehatan mental mereka.
Sumber: tempo88.id