Ada Perang Lempar Tomat Sebanyak 120 Ton di Spanyol

Madrid – Ribuan orang dari berbagai penjuru dunia berkumpul di kota Buñol, Spanyol, Rabu (27/8/2025), untuk mengikuti festival unik INITOGEL sekaligus berantakan: Tomatina. Selama satu jam penuh, peserta saling melemparkan tomat matang hingga jalanan kota berubah menjadi lautan merah.

Sekitar 120 ton tomat didatangkan dengan truk dan dilemparkan oleh hampir 20.000 peserta, dikutip dari laman AP, Kamis (28/8).

Tawa, teriakan, dan musik yang menghentak membuat suasana terasa seperti pesta jalanan raksasa. Hampir semua peserta, banyak di antaranya mengenakan kaus putih, berakhir dengan tubuh dan pakaian berlumuran bubur tomat.

Untuk melindungi bangunan, terpal dipasang di fasad rumah dan toko, sementara panitia berbaju hijau membuka jalan bagi truk bermuatan tomat yang datang bergelombang membawa “amunisi”.

Tahun ini, Tomatina mengusung slogan “Tomaterapia” atau Terapi Tomat, sebagai bentuk semangat warga Buñol yang sebelumnya dilanda banjir besar pada akhir Oktober 2024.

Festival Tomatina sendiri telah berlangsung selama 80 tahun, sejak pertama kali digelar pada 1945 ketika sekelompok anak muda setempat memicu perkelahian dengan melempar tomat di pasar. Sejak itu, acara ini berkembang menjadi tradisi tahunan yang mendunia dan hanya dua kali absen akibat pandemi COVID-19.

Di luar pesta meriah, Tomatina tahun ini juga diwarnai sentimen politik. Sebuah partai sayap kiri mendukung aksi warga yang membentangkan bendera Palestina dan spanduk mengecam operasi militer Israel di Gaza.

Aturan Khusus Ikut Festival

Festival Melempar Tomat La Tomatina di Spanyol

Banyak turis berbondong-bondong ke Bunol untuk mengikuti perang tomat setiap tahunnya. (AP Photo/Alberto Saiz)

Meski terlihat kacau, festival ini punya aturan khusus: setiap tomat harus dihancurkan terlebih dahulu sebelum dilempar, agar tidak terlalu sakit saat mengenai peserta lain. Banyak peserta juga memilih mengenakan kacamata renang dan penutup telinga untuk perlindungan tambahan.

Pihak penyelenggara memastikan tomat yang digunakan bukan untuk konsumsi karena tidak memenuhi standar pangan. Tomat-tomat tersebut sengaja ditanam untuk festival ini, dan bila tidak dipakai di Tomatina, akan terbuang sia-sia. Tahun ini, pasokan tomat didatangkan dari sebuah kota yang berjarak lebih dari lima jam perjalanan dari Buñol.

Tepat saat meriam ditembakkan sebagai tanda berakhirnya pertempuran, peserta pun berhenti melempar. Dengan tubuh penuh bubur tomat, mereka bergegas ke pancuran umum untuk membersihkan diri, sementara petugas kota mulai menyemprot jalanan yang berubah menjadi lumpur merah.

Sumber : Tempo88.id